[image: 664b26ba-8d59-4395-9d98-f1ccfc56b0f4.jpg]
Bersaing dengan 700 Tim se Indonesia, MAN 2 Kudus Raih Emas ISRC Dua Tahun Berturut-turut
KUDUS, PATINEWSCOM
Ajang Indonesian Student Research Competition 2026 menjadi panggung pembuktian kualitas riset pelajar nasional. Kompetisi yang digelar pada 17–19 April 2026 di de Java Hotel ini mempertemukan ratusan tim terbaik dari seluruh Indonesia dalam kompetisi berstandar tinggi.
Dari lebih dari 700 tim pendaftar yang tersaring ketat menjadi hanya 20–25 tim per bidang, MAN 2 Kudus kembali menunjukkan dominasinya. Sekolah tersebut sukses meraih Gold Medal di bidang Humaniora dan Ilmu Sosial (BISH) kategori SMA.
Tim MAN 2 Kudus mengangkat penelitian berjudul “Limbah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai Indikator Implementasi Kebijakan: Analisis Partisipasi dan Perilaku Konsumsi Siswa”. Tim ini diperkuat oleh Hanisa Cahya Zilarisna, Aqila Ditahayu, Keisha Azalia Bellini Birton, dan Nabeela Cikal Samara.
Sejak awal presentasi, tim tampil dengan pendekatan yang terstruktur dan berbasis data kuat. Argumentasi disusun sistematis, dengan kontrol data yang ketat serta narasi kebijakan yang tajam. Dalam dua babak penilaian yang menguji konsistensi dan ketahanan mental, mereka mampu menjaga performa hingga akhir.
Momen krusial terjadi saat tim tampil di urutan terakhir. Alih-alih menurun, performa mereka justru mencapai puncak. Penyampaian materi yang presisi serta kemampuan menjawab pertanyaan juri secara terukur membuat presentasi mereka mendapat standing ovation dari audiens.
Dewan juri yang terdiri dari akademisi nasional ternama turut memberikan apresiasi tinggi. Salah satu juri, Chaerul Rochman, bahkan secara langsung mengajak tim untuk berfoto bersama sebagai bentuk pengakuan atas kualitas performa yang dinilai di atas rata-rata kompetisi.
Keberhasilan ini tidak lepas dari peran pembimbing Muhammad Najih Irfani. Menariknya, ia juga merupakan sosok di balik keberhasilan tim pada tahun sebelumnya, yang juga meraih medali emas di bidang yang sama.
Pendekatan lintas disiplin yang ia terapkan—menggabungkan latar belakang teknik dengan analisis sosial—membuat riset tim menjadi lebih sistematis, logis, dan sulit dipatahkan. Hal ini menjadi faktor pembeda yang signifikan di tengah kompetisi ketat antar sekolah unggulan.
Dengan capaian dua medali emas berturut-turut, MAN 2 Kudus kini tidak hanya mempertahankan gelar juara, tetapi juga mengukuhkan diri sebagai tolok ukur baru dalam kompetisi riset pelajar nasional.
Di tengah persaingan yang semakin kompetitif, keberhasilan ini menegaskan satu hal: MAN 2 Kudus bukan sekadar peserta, melainkan kekuatan utama yang terus mendorong standar kualitas riset pelajar Indonesia ke level yang lebih tinggi.
#fyp #virals #kudus
Bersaing dengan 700 Tim se Indonesia, MAN 2 Kudus Raih Emas ISRC Dua Tahun Berturut-turut
KUDUS, PATINEWSCOM
Ajang Indonesian Student Research Competition 2026 menjadi panggung pembuktian kualitas riset pelajar nasional. Kompetisi yang digelar pada 17–19 April 2026 di de Java Hotel ini mempertemukan ratusan tim terbaik dari seluruh Indonesia dalam kompetisi berstandar tinggi.
Dari lebih dari 700 tim pendaftar yang tersaring ketat menjadi hanya 20–25 tim per bidang, MAN 2 Kudus kembali menunjukkan dominasinya. Sekolah tersebut sukses meraih Gold Medal di bidang Humaniora dan Ilmu Sosial (BISH) kategori SMA.
Tim MAN 2 Kudus mengangkat penelitian berjudul “Limbah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai Indikator Implementasi Kebijakan: Analisis Partisipasi dan Perilaku Konsumsi Siswa”. Tim ini diperkuat oleh Hanisa Cahya Zilarisna, Aqila Ditahayu, Keisha Azalia Bellini Birton, dan Nabeela Cikal Samara.
Sejak awal presentasi, tim tampil dengan pendekatan yang terstruktur dan berbasis data kuat. Argumentasi disusun sistematis, dengan kontrol data yang ketat serta narasi kebijakan yang tajam. Dalam dua babak penilaian yang menguji konsistensi dan ketahanan mental, mereka mampu menjaga performa hingga akhir.
Momen krusial terjadi saat tim tampil di urutan terakhir. Alih-alih menurun, performa mereka justru mencapai puncak. Penyampaian materi yang presisi serta kemampuan menjawab pertanyaan juri secara terukur membuat presentasi mereka mendapat standing ovation dari audiens.
Dewan juri yang terdiri dari akademisi nasional ternama turut memberikan apresiasi tinggi. Salah satu juri, Chaerul Rochman, bahkan secara langsung mengajak tim untuk berfoto bersama sebagai bentuk pengakuan atas kualitas performa yang dinilai di atas rata-rata kompetisi.
Keberhasilan ini tidak lepas dari peran pembimbing Muhammad Najih Irfani. Menariknya, ia juga merupakan sosok di balik keberhasilan tim pada tahun sebelumnya, yang juga meraih medali emas di bidang yang sama.
Pendekatan lintas disiplin yang ia terapkan—menggabungkan latar belakang teknik dengan analisis sosial—membuat riset tim menjadi lebih sistematis, logis, dan sulit dipatahkan. Hal ini menjadi faktor pembeda yang signifikan di tengah kompetisi ketat antar sekolah unggulan.
Dengan capaian dua medali emas berturut-turut, MAN 2 Kudus kini tidak hanya mempertahankan gelar juara, tetapi juga mengukuhkan diri sebagai tolok ukur baru dalam kompetisi riset pelajar nasional.
Di tengah persaingan yang semakin kompetitif, keberhasilan ini menegaskan satu hal: MAN 2 Kudus bukan sekadar peserta, melainkan kekuatan utama yang terus mendorong standar kualitas riset pelajar Indonesia ke level yang lebih tinggi.
#fyp #virals #kudus



































